Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Lemahnya niai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ancam harga obat di Indonesia.
- Dampak ini akibat meningkatnya harga bahan baku impor.
- Industri farmasi di tanah air meskipun sebagian besar obat jadi telah diproduksi di dalam negeri, sangat terpukul dengan nilai rupiah yang merosot karena bahan baku obat masih impor.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada meningkatnya harga bahan baku impor termasuk obat.
Kondisi ini juga berpotensi sebabkan kenaikan harga dan gangguan pasokan obat.
Baca juga: Rupiah Merosot, Bagaimana Harga Nasib Obat BPJS?
Di balik potensi kenaikan harga tersebut, tersimpan persoalan yang lebih besar yakni ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat.
Epidemiolog dan pakar kesehatan global Dicky Budiman mengingatkan bahwa struktur industri farmasi nasional selama ini sangat rentan terhadap gejolak ekonomi global.
Menurutnya, ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor membuat harga obat di Indonesia mudah terdampak ketika nilai tukar rupiah melemah maupun ketika harga energi dunia meningkat.
"Kita sudah lama melihat struktur industri farmasi Indonesia kita ini sangat rentan terhadap gejolak nilai tukar. Karena sejak lama Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap impor bahan baku obat," ujar Dicky pada Tribunnews, Senin (15/6/2026).
Pendapat Dicky ini selaras dengan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang mengakui Indonesia masih doyan impor bahan baku obat (BBO).
Mengutip data dari website Universitas Airlangga, Data impor Bahan Baku Obat (BBO) yang dikeluarkan oleh Kementrian Perindustrian dan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam tiga tahun terakhir adalah US $ 443 juta (2021), US $ 509 juta (2022), dan US $ 1,27 miliar (2023). Negara utama pengimpor bahan baku tersebut adalah Cina (45 persen), India (27%), dan Amerika Serikat (8%), sisa 20?rasal dari negara lain.
Meskipun terjadi penurunan volume impor pada tahun 2023, ketergantungan impor BBO tetap tinggi, mencapai lebih dari 90% pada tahun 2024.
Impor 85 Persen, Hanya Kuat di Hilir
Dicky menjelaskan meskipun sebagian besar obat jadi telah diproduksi di dalam negeri, kemampuan industri farmasi Indonesia masih terkonsentrasi pada sektor hilir.
Ia menyebut sekitar 85 persen bahan baku farmasi nasional masih bergantung pada impor, terutama dari India dan Tiongkok.
"Bahwa sekitar 85 persen bahan baku farmasi nasional itu kan masih diimpor. 85 persen tinggi sekali terutama dari India dan Tiongkok. Jadi artinya meskipun 95 persen produk obat jadi sudah diproduksi dalam negeri tapi artinya kemampuan hilir kita kuat tapi hulunya itu masih sangat rapuh," papar Dicky.